7.1.13

The Adhesion Activity and Inhibition of Adhesion Klebsiella pneumoniae Strains by Lactobacillus bulgaricus in Soyghurt in In-Vitro on HEp-2 Cell Lines with Preinfection Treatment


JETTY NURHAJATI1*., CHRYSANTI2,  PRIMA NANDA FAUZIAH1

1 Biology Department, Faculty of Mathematic and Natural Science, Padjadjaran University, Indonesia.
2Microbiology Department, Faculty of Medicine, Padjadjaran University, Indonesia
*Email: primayaa@yahoo.com


ABSTRACT
Attachment or adhesion of Lactobacillus bulgaricus in soyghurt and Klebsiella pneumoniae strains and also inhibition of adhesion K.pneumoniae in the respiratory tract by using L.bulgaricus has been done in the laboratory using HEp-2 cell lines with preinfection treatment. This research was aimed at finding out the adhesion ability of L.bulgaricus in soyghurt and K.pneumoniae strains, and also to force anti-adhesives L.bulgaricus on the adhesion of K.pneumoniae strains to HEp-2 cell lines. This research consists of two phases: first, examine the adhesion ability of L.bulgaricus in soyghurt and K.pneumoniae strains on HEp-2 cell lines. The second phase was testing the concentration of L.bulgaricus in soyghurt for inhibiting the adhesion of K.pneumoniae strains on HEp-2 cell lines according to the contact time of infection. Results of the first phase showed that L.bulgaricus in soyghurt could carry out adherence in HEp-2 cell lines after 5 hours of contact with HEp-2 cell lines by expressing diffuse adherence (DA), whereas K.pneumoniae strains could carry out adherence on HEp-2 cell lines after 5 h of contact with HEp-2 cell lines by expressing aggregative adherence (AA). The second phase of the research results showed the treatment of L.bulgaricus in soyghurt with concentration 108 CFU/ml can decreased the adhesion percentage of K.pneumoniae strains to HEp-2 cell lines after 5 h on the pre infection. Percentage total of K.pneumoniae ATCC 700603 only can be adhesion on HEp-2 cell lines amounting 6.42% compared to the controls of K.pneumoniae ATCC 700603 to wit 88.19%, whereas for percentage total of K.pneumoniae CT1538 and K.pneumoniae S941 can be adhesion amounting 30% and 10,11%. L.bulgaricus in soyghurt has adhesive characteristics, so it can be expected to carry out adherence in respiratory tract and could inhibit K.pneumoniae adhesion activity.

Keywords: Klebsiella pneumoniae, Lactobacillus bulgaricus, Bacteria Adhesion, Soyghurt. 

 Has been published on 8th National Congress of Indonesia Association of Clinical Microbiology (PAMKI) (November -3th, 2012)
 

5.1.13

Bakteri Pendegradasi Selulosa

Bakteri selulolitik merupakan salah satu contoh dari mikroorganisme selulolitik. Bakteri selulolitik dapat menguraikan zat organik, yaitu selulosa menjadi bentuk yang lebih sederhana. Bakteri selulolitik dapat ditemukan pada tanah, pada pupuk, dan pada jaringan tumbuhan yang sudah membusuk. Contoh bakteri selulolitik yang banyak dikenal adalah bakteri yang berasal dari genus Bacillus, Clostridium, dan Pseudomonas. Selain itu ada juga yang berasal dari genus Cellulomonas, Corynebacterium, Cytophaga, Vibrio, Polyangium, dan Sporocytophaga (Alexander, 1977).

Contoh bakteri yang dapat mendegradasi selulosa adalah Sporosarcina, Halomonas, Bacillus, Sporospirillum dan Lactobacillus (Syafitria, 2010).

A. Bakteri Genus Bacillus

Bakteri Bacillus mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut: warna koloni putih susu atau agak krem, bentuk koloni bulat dengan tepian keriput. Sel berbentuk batang dan lurus, berukuran 0,5-2,5 x 1,2-10 μm, dan sering tersusun dalam bentuk sepasang atau rantai, dengan ujung bundar atau empat persegi. Gram positif, motil oleh flagel peritrikus, katalase dan oksidase positif, metil red negatif, optimum pada suhu 30-37⁰C dan tumbuh baik pada NaCl 1-3%. Menurut Holt et al, (1994), Bacillus sp. memiliki endospora oval, dan sangat resisten pada kondisi yang tidak menguntungkan. Mereka tidak lebih dari satu spora per sel dan sporulasi tidak tahan pada udara terbuka. Bakteri ini bersifat aerobik atau fakultatif anaerobik. Bakteri ini tersebar luas pada bermacam-macam habitat, dan sedikit spesies adalah patogen terhadap vertebrata atau invertebrata (Feliatra, 2004).

B. Bakteri Genus Lactobacillus

Bakteri ini mempunyai ciri-ciri morfologi sebagai berikut: warna koloni putih susu atau agak krem, bentuk koloni bulat dengan tepian seperti wol. Sel berbentuk batang dan biasanya tetap, berukuran 0,5-1,2 x 1,0-10,0 μm. Mereka biasanya berbentuk batang panjang tapi kadang-kadang hampir bulat, biasanya bentuk rantai yang pendek, Gram positif, tidak motil, oksidase positif, katalase negatif, metil red positif, optimum pada suhu 30-37°C dan tumbuh baik pada NaCl 3-7%. Menurut Holt et al, (1994), bakteri Lactobacillus sp. ini termasuk Gram positif, tidak berspora, tidak motil oleh flagel peritrichous, fakultatif anaerob, kadang-kadang mikroaerofilik, sedikit tumbuh di udara tapi bagus pada keadaan di bawah tekanan oksigen rendah, dan beberapa anaerob pada isolasi.

Pada umumnya bakteri ini tumbuh baik sekali pada 5% CO2. Koloni pada media agar biasanya 2-5 mm, cembung, entire, buram (opaque) dan tanpa pigmen, kemoorganotrof, metabolismenya adalah fermentatif dan saccharoclastic. Sedikit dari separuh produk akhir karbon adalah laktat, tidak menghasilkan nitrat, gelatin tidak menjadi cair, sitokrom negatif, katalase negatif dan oksidase positif. Tumbuh optimum pada suhu 30-40°C. Lactobacillus tersebar luas di lingkungan, terutama pada hewan dan produk makanan sayursayuran. Mereka biasanya mendiami saluran usus burung dan mamalia, dan vagina mamalia. Mereka tidak bersifat patogen (Feliatra, 2004).
C. Bakteri Genus Pseudomonas

Pseudomonas mempunyai ciri-ciri morfologi yaitu: warna koloni agak kekuningan, bersifat Gram negatif, dan dalam kelompok sel berbentuk batang dan lurus dengan ukuran 0,5-1,0 x 1,5-5,0 μm. Banyak spesies dapat menguraikan poli-hidroksibutirat sambil menyerap karbon yang ada dalam material, uji katalase positif dan oksidase negatif, motil, metil red positif, suhu optimum pertumbuhan pada 30-37⁰C dan tumbuh baik pada NaCl 3-7%.

Bakteri Pseudomonas sp. ada yang bersifat patogen dan ada yang bersifat menguntungkan bagi organisme lain. Effendi (2002) mengemukakan bahwa bakteri dari spesies Pseudomonas bromoutilis ini memproduksi antibiotik 2, 3, 4 tribromo-5 (I, hidroksi-2, 4,-dibromophenil)-pyrole. Zat ini bersifat menghambat perkembangan bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia, Streptococcus pyogenes, dan Microbacterium tubercolosis (Feliatra, 2004).
D. Bakteri Genus Cytophaga

Cytophaga merupakan bakteri yang berbentuk panjang dengan ujung yang runcing. Bakteri ini dapat mencerna selulosa, agar/khitin. Cara bakteri ini mendegradasi selusosa dengan meluncur di permukaan material yang mengandung selulosa. Organisme ini menghasilkan membran sel yang mengandung endoglucanase dan periplasmic exoglucanases yang berfungsi untuk mendegradasi selulosa. Walaupun bakteri ini dapat mencerna selulosa, tetapi bakteri ini tidak dapat menghasilkan selulase, enzim ini hanya melekat di sel amplop dan bersatu dengan lendir yang dikeluarkan selama pergerakan. Habitat bakteri ini adalah di tanah dan air. Koloni bakteri ini berwarna kuning atau jingga. Bakteri ini juga dapat dikultur di medium yang mengandung selulosa (Madigan, 2001).

20.12.12

Mikroba Pelarut Fosfat

Mikroba pelarut fosfat adalah mikroba yang mampu melepaskan unsur fosfat dari koloid tanah sehingga menjadi bentuk yang dapat diserap oleh tumbuhan. Mikroba ini merupakann salah satu mikroba yang berperan di dalam penyediaan unsur hara dalam tanah, yaitu fosfat. Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K.

Selain mikroba pelarut fosfat juga terdapat mikroba yang berperan sebagai penyerap fosfat. Kelompok mikroba yang berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp.

Jenis-jenis Mikroba Pelarut Fosfat :

Kingdom    : Fungi
Phylum       : Ascomycota
Class          : Eurotiomycetes
Order         : Eurotiales
Family        : Trichocomaceae
Genus         : Aspergillus
Spesies       : Aspergillus sp (Micheli, 1729)

Kingdom    : Fungi
Phylum       : Ascomycota
Class          : Eurotiomycetes
Order         : Eurotiales
Family        : Trichocomaceae
Genus        : Penicillium
Spesies      : Penicillium sp

Kingdom    :Bacteria
Phyllum      :Proteobacteria
Class         :Gamma Proteobacteria
Order        : Pseudomonadales
Family       : Pseudomonadaceae
Genus       : Pseudomonas (Migula,1894)


Kingdom    : Bacteria
Phylum       : Firmicutes
Class          : Bacilli
Order         : Bacillales
Family        : Bacillaceae
Genus        : Bacillus
Species      : B. megaterium

Daftar Pustaka
  • http://beritek.wordpress.com/2009/05/30/bioteknologi-mikroba-untuk-pertanian-organik/
  • http://archive.microbelibrary.org/microbelibrary/files/ccImages/Articleimages/treves/Penicillium_labeled.jpg
  • https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIC_Nm3Q4vMDYyosHRHmAXCItORjZTq1VcHO0PjYVCnwPJJMSfjVRqlrNOaZqI6dZ3UKlrmxWyJzebAWl32zdeURyUbgsd3Mb8UwUvezSbO1htrVRn1L5i6HPYBNT8pZ_y2B9pH3I1oW4/s1600/Pseudomonas+sp.jpg
  • http://www.magma.ca/~scimat/B_megate.htm

13.11.12

MIKROORGANISME PENDEGRADASI PESTISIDA

Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengontrol, menolak atau membunuh pes (contohnya serangga, tikus, rumput liar, burung, Mammalia, ikan, atau mikroba) yang dianggap mengganggu. Pestisida berasal dari bahasa Inggris; pest berarti hama, sedangkan cide berarti membunuh.

Jenis-jenis pestisida:
1.    Penggolongan pestisida menurut jasad sasaran

  • Insektisida, racun serangga (insekta)
  • Fungisida, racun cendawan / jamur
  • Herbisida, racun gulma / tumbuhan pengganggu
  • Akarisida, racun tungau dan caplak (Acarina)
  • Rodentisida, racun binatang pengerat
  • Nematisida, racun nematoda
  • Algasida berfungsi untuk membunuh alga.
  • Avisida berfungsi untuk membunuh burung serta pengontrol populasi burung.
  • Bakterisida berfungsi untuk membunuh atau melawan bakteri.
  • Larvasida berfungsi untuk membunuh larva.
  • Molusksisida berfungsi untuk membunuh siput.
  • Nematisida berfungsi untuk membunuh cacing.
  • Ovisida berfungsi untuk membunuh telur.
  • Pedukulisida berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.
  • Piscisida berfungsi untuk membunuh ikan.
  • Presida berfungsi untuk membunuh pemangsa atau predator.
  • Termisida berfungsi untuk membunuh rayap.
2.    Berdasarkan ketahanannya di lingkungan, pestisida dapat dikelompokkan atas dua golongan:
  • Resisten, dimana meninggalkan pengaruh terhadap lingkungan.Pestisida yang termasuk organochlorines termasuk pestisida yang resisten pada lingkungan dan meninggalkan residu yang terlalu lama dan dapat terakumulasi dalam jaringan melalui rantai makanan, contohnya DDT, Cyclodienes, Hexachlorocyclohexane (HCH), endrin
  • Kurang resisten. Pestisida kelompok organofosfa adalah pestisida yang mempunyai pengaruh yang efektif sesaat saja dan cepat terdegradasi di tanah, contohnya Disulfoton, Parathion, Diazinon, Azodrin, Gophacide, dan lain-lain.
3.    Penggolongan menurut asal dan sifat kimia
 a) Sintetik
  • Anorganik : garam-garam beracun seperti arsenat, flourida, tembaga sulfat dan garam merkuri.
  • Organik : 
    • Organo khlorin : DDT, BHC, Chlordane, Endrin dll.
    • Heterosiklik : Kepone, mirex dll.
    • Organofosfat : malathion, biothion dll.
    • Karbamat : Furadan, Sevin dll.
    • Dinitrofenol : Dinex dll.
    • Thiosianat : lethane dll.
    •  Sulfonat, sulfida, sulfon.
    • Lain-lain : methylbromida dll.
b) Hasil alam
Alam sebenarnya telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman, misalnya: Nikotinoida, Piretroida, Rotenoida dan lain-lain. Pestisida nabati memiliki beberapa fungsi, antara lain:
1.    Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
2.    Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
3.    Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
4.    Menghambat reproduksi serangga betina
5.    Racun syaraf
6.    Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga
7.    Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
8.    Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri

Namun, terdapat kekurangan dan kelebihannya, yaitu: 
a) Kelebihan
  • Degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari
  • Memiliki pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan napsu makan serangga walaupun jarang menyebabkan kematian
  • Toksisitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relative lebih aman pada manusia dan lingkungan
  • Memiliki spectrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif
  • Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida kimia
  • Phitotoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman
  • Murah dan mudah dibuat oleh petani 
b) Kelemahan
  • Cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering
  • Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga)
  • Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan baku
  • Kurang praktis
  • Tidak tahan disimpan 
Pestisida dan Lingkungan
Pestisida memang bersifat membasmi tetapi tidak semua beracun. Pestisida dapat menghancurkan ekosistem yang berada di area pertanian yang mengonsumsi pestisida, yang justru sangat membantu dalam proses penyuburan tanah, serta berperan penting dalam pendistrubusian buah-buahan agar tahan lama (tidak rusak dijalan).

Berbagai macam pestisida kimia sintetik yang telah digunakan sampai sekarang jumlahnya mencapai ribuan. Pestisida yang digunakan untuk memberantas hama maupun herbisida yang digunakan untuk membersihkan gulma, sekarang sudah mengakibatkan banyak pencemaran. Hal ini disebabkan sifat pestisida yang sangat tahan terhadap peruraian secara alami (persisten). Contoh pestisida yang persistensinya sangat lama adalah DDT, Dieldrin, BHC, dan lain-lain. Walaupun sekarang telah banyak dikembangkan pestisida yang mudah terurai (biodegradable), tetapi kenyataannya masih banyak digunakan pestisida yang bersifat rekalsitran.

Penggunaan pupuk dan pestisida pada awalnya mungkin belum memberikan efek yang berarti, namun dalam tempo yang panjang terlebih lagi disertai dengan penggunaan yang tidak hati-hati dan dosis yang tidak tepat, maka akan terjadi akumulasi di tanah. Keadaan tanah yang jenuh oleh bahan-bahan sintetik tersebut menyebabkan rantai makanan menjadi lambat dan bahkan berhenti, karena ketidakmampuan bakteri untuk menguraikan bahan-bahan sintetis itu. Tanah cenderung asam dan terjadi pengerasan yang disebabkan oleh pupuk sintetik. Dalam kondisi yang demikian, maka sangat diperlukan peranan dari mikroorganisme yang mampu mendegradasi senyawa C2H7NO2 seperti Trichoderma viride. Dengan peranan mikroorganisme tersebut maka akumulasi senyawa C2H7NO2 dapat diminimalisasi dan kesuburan tanah akan terjaga.

Langkah lain untuk mengurangi pencemaran yaitu dengan pemberian pestisida seefektif mungkin. Namun, pestisida dalam dosis rendah dapat menyebabkan terjadinya biomagnifikasi sehingga kandungan pestisida di lingkungan yang sangat rendah akan dapat terakumulasi melalui rantai makanan, sehingga dapat membahayakan kehidupan makhluk hidup termasuk manusia. Untuk mengatasi pencemaran tersebut, sekarang banyak dipelajari biodegradasi pestisida atau herbisida.


Bioremediasi
Kapasitas mikroorganisme untuk mendegradasi secara alami bahan organik yang telah dilakukan jutaan tahun, sekarang ditantang dengan bahan kimia sintetik yang dengan sengaja ataupun tidak sengaja dimasukkan ke dalam lingkungan. Bioremediasi merupakan teknik yang potensial untuk membersihkan daerah terkontaminasi bahan pencemar. Teknologi bioremediasi secara sederhana merupakan usaha untuk mengoptimalkan kemampuan alami mikroorganisme untuk mendegradasi atau mendaur ulang dengan memberikan reaktan anorganik esensial dan meminimumkan tekanan abiotik. Teknologi ini sangat berguna dan dapat digunakan pada berbagai tahapan perlakuan.

Bioremediasi adalah proses pembersihan perusakan atau pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbondioksida dan air). Keberhasilan proses bioremediasi harus didukung oleh disiplin ilmu lain, seperti fisiologi mikroba, ekologi, kimia organik, biokimia, genetika molekuler, kimia air, kimia tanah dan juga teknik. Mikroba yang sering digunakan dalam proses bioremediasi adalah bakteri, jamur, yeast, dan alga. Degradasi senyawa kimia oleh mikroba di lingkungan merupakan proses yang sangat penting untuk mengurangi kadar bahan-bahan berbahaya di lingkungan, yang berlangsung melalui suatu seri reaksi kimia yang cukup kompleks. Dalam proses degradasinya, mikroba menggunakan senyawa kimia tersebut untuk pertumbuhan dan reproduksinya melalui berbagai proses oksidasi.

Empat teknik dasar yang biasanya digunakan dalam bioremediasi, yaitu :
  • Stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (indigenous) pada lokasi tersemar dengan penambahan nutrient, pengaturan kondisi redoks, optimasi PH, dan sebagainya.
  • Inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus.
  • Penerapan immobilized enzymes.
  • Penggunaan tanaman (phytoremediation).

Kecepatan degradasi pestisida dipengaruhi terutama oleh :
1. Struktur kimia suatu senyawa toksikan faktor utama yang menentukan kecepatan degradasi. Proses
    biodegradasi pestisida dipengaruhi oleh struktur kimia pestisida yaitu :
  • Semakin panjang rantai karbon alifatik, semakin mudah mengalami degradasi.
  • Ketidakjenuhan dan percabangan rantai hidrokarbon akan mempermudah degradasi.
  • Jumlah dan kedudukan atom-atom C1 pada cincinan aromatik sangat memengaruhi degradasi. Misal 2,4 D (2,4-diklorofenol asam asetat) lebih mudah dirombak di dalam tanah dibandingkan dengan 2,4,5-T (2,4,5-triklorofenoksi asam asetat).
  • Posisi terikatnya rantai samping sangat menentukan kemudahan degradasi pestisida

2.    Kondisi lingkungan juga meliputi
  • tipe tanah
  • jumlah bahan organik tanah,
  • suhu
  • lamanya tanah tersebut ditanami
  • Curah Hujan
  • pH 
Mikroorganisme Pendegradasi Pestisida
Beberapa kelompok mikroorganisme yang pentig dalam kaitannya dengan mobilitas dan keberadaan zat pencemar, terutama organik antara lain:

a.    Jamur
Jamur penting dalam mendegradasi zat organik sisa tanaman, karena beberapa diantaranya seperti white rot fungi mempunyai kemampuan untuk merombak zat lignin, yang merupakan suatu polimer yang terdapat di dalam bahan tanaman (misalnya kayu) yang sangat sulit dirombak oleh enzim bakteri, karena memiliki ikatan ß-glycosidic. Jamur mampu mengeluarkan suatu enzim peroxidase, yaitu suatu enzim yang dapat menhasilkan radikal hidroksil yang mampu merombak lignin menjadi zat yang dapat didegradasi oleh bakteri. Selain lignin radikal hidroksil dapat mendegradasi chlorinated pestisida seperti DDT, Eldrien dan PCB.

Beberapa jamur mikoriza seperti Rhizopogon vinicolor, Rhizopogon vulgaris, Hymenoscyphus ericae, Oidiodendron griseum, dan Gautieria crispa memiliki kemampuan remediasi senyawa-senyawa toksik di tanah, seperti dalam metabolisme berbagai senyawa aromatik: 2,4-D, atrazin, dan PCBs. Selanjutnya dinyatakan bahwa Radiigera atrogleba dan Hysterangium gardneri mampu mendegradasi 2,2-diklorofenol sebesar 80%.

b.    Bakteri
Bakteri dan jamur merupakan kelompok yang memiliki peran yang terpenting dalam kaitannya dengan mobilitas dan keberadaan zat pencemar.
  1. Arthrobacter sp., Pseudomonas sp., dan Azotobacter sp. merupakan mikroorganisme aerobik atau fakultatif pada kondisi anaerob dapat mendegradasi klorobenzena:. Prosesnya konversi menjadi klorokatekol melalui reaksi dioksigenase dan dehidrogenase. Klorokatekol mengalami degradasi bertahap menjadi asam organik rantai lurus melalui pemutusan cincin benzena pada posisi orto. Deklorinasi reduktif dalam kondisi anaerob. Pseudomonas fluorescens tidak dapat mendegradasi DDT pada kondisi aerobic.
  2. Delsufurbio sp., merupakan bakteri yang dapat mereduksi sulfat menjadi sulfide.
  3. Geotrichum sp. merupakan spesies bakteri aerob yang dapat mendegradasi DDT
  4. Bacillus cereus, Bacillus coagulans, Bacillus subtilis, Escherichia coli dan  Enterobacter aerogenes dalam medium ekstrak kedelai trypticase dapat mendegradasi DDT menjadi dua sampai delapan metabolit. Tujuh metabolit bersal dari bakteri aerob yaitu Bacillus. Metabolit yang hampir sama berasal dari  reaksi anaerob E. coli dan E. aerogenes namun kurang dari empat metabolit berasal dari reaksi aerob dari organisme lain.
  5. Secara umum jalur metabolis pendegradasian DDT (1,1,1-triehloro-2,2-bis (p-chlorophenyl)ethane) adalah
  6. DDT  > DDD > DDMU > DDMS > DDNU > (DDOH) > DDA > DBP or DDT > DDE.
  7. Staphylococcus aureus tidak dapat mendegradasi DDT pada kondisi aerobik.
Contoh Proses Degradasi Pestisida
Proses degradasi limbah pestisida dengan memanfaatkan enzim tidak mudah, dalam penanganan limbah pestisida secara enzimatis, sistem yang dikembangkan harus melalui tahap pengajian yang teliti sehingga tidak diperoleh hasil yang tidak diharapkan. Tidak semua jenis pestisida dapat dihidrolisis dengan menggunakan satu jenis biokatalis enzim. Namun, proses ini bergantung jenis pestisida, jenis mikroba, dan media pembiakan tempat berkembangnya bakteri tersebut sebelum dapat digunakan. Harus ditentukan dulu jenis pestisidanya, jenis mikroba yang tumbuh pada lahan pertanian yang akan didegradasi dengan enzim.

Untuk menentukan enzim penghidrolisis pestisida pada lahan pertanian, yang perlu dilakukan adalah dengan menentukan jenis mikroba. Untuk itu yang perlu dicari terlebih dahulu mikroba yang hidup pada lahan pertanian tersebut. Bakteri yang didapat, kemudian dibiakkan dalam media yang mengadung pestisida tertentu. Tujuannya supaya bakteri ini bisa tahan terhadap zat beracun ini. Dalam media ini mikroba kemudian menghasilkan enzim kasar yang akan dimurnikan dan selanjutnya diamobilisasi.

Untuk menghidrolisi jenis pestisida herbisida fenilkarbamat, misalnya, maka jenis yang digunakan adalah jenis enzim yang dihasilkan oleh mikroba dari genus Arthrobacter (Arthrobacter sp). Caranya dengan membiakkan mikroba ini dalam medium diklorofenosiastet terlebih dahulu. Setelah proses ini, enzim baru bisa dipakai untuk menghidrolisi herbisida jenis fenol terklorinasi. Demikian juga untuk jenis pestisida fenil karbamat digunakan jenis mikroba dari jenis genus Pseudomonas. Mikroba ini dibiakkan dalam dalam herbisida fenilkarbamat dan akhirnya dapat digunakan untuk menghidrolisis beberapa pestisida golongan fenil seperti karbamat dan asilanilida.

Setelah enzim ini jadi maka bisa digunakan dalam lahan pertanian. Bila berbentuk pelet enzim bisa ditaburkan di atas lahan pertanian. Tapi bila berbentuk cair maka enzim dapat dicampurkan di dalam larutan penyaring, untuk menghidrolisis air yang mengandung pestisida pada lahan pertanian yang bersama dengan proses penyaringan air.

Enzim mempunyai keunggulan dalam mendegradasi pestisida, karena biokatalis ini bisa digunakan dalam suhu ruang dan pH netral. Reaksi enzimatis tidak memerlukan bahan kimia konvensional sehingga ramah lingkungan. Bahan kimia biasa untuk mendegradasi kadang berbahaya karena menghasilkan efek samping.

Keuntungan lain reaksi enzimatis, pada saat degradasi tidak terpengaruh oleh toksisitas limbah yang ada dibanding dengan cara biologis menggunakan tanaman air. Enzim juga mampu menghasilkan reaksi yang bersih yang tidak berefek samping lantaran memunyai kekhususan pada struktur molekul pembentuknya.

Daftar Pustaka
  1. Anonim. 2003. Pestisida. http://tumoutou.net/TOX/PESTISIDA.htm. Diakses tanggal 14 Desember 2008.
  2. Anonim. 2008.  Degradasi Lahan. http://lasonearth.wordpress.com/makalah/degradasi-lahan/. Diakses   tanggal 14 Desember 2008.
  3. Anonim 2008. Intrinsic Bioremediation of Trichloroethylene and Chlorobenzene: Field and Laboratory Studies. http://www3.interscience.wiley.com/journal/119706247 /abstract?CRETRY=1&SRETRY=0. Diakses tanggal 14 Desember 2008.
  4. Anonim. 2008. Keunggulan dan Kekurangan Pestisida Nabati. http://www.panap.net /uploads/media/Health_module_BIndonesia.pdf. Diakses tanggal 14 Desember 2008.
  5. Anonim. 2008. Mereduksi Toksin dan Protein. web.ipb.ac.id/~lppm/ID/index.php? view=warta/isinews&id=1020 - 29k -
  6. Anonim. 2008. Mikroba dan Lingkungan. http://sumarsih07.files.wordpress.com /2008/11/vii-mikroba-dan-lingkungan.pdf.
  7. Anonim. 2008. Pengendalian Hama dan Penyakit dengan Pestisida Nabati. http://isroi.wordpress.com/2008/06/02/pengendalian-hama-dan-penyakit-dengan-pestisida-nabati/. Diakses tanggal 14 Desember 2008.
  8. Anonim. 2008. Pestisida. http://id.wikipedia.org/wiki/Pestisida. Diakses tanggal 14 Desember 2008.
  9. Fardiaz, S.1992. Polusi Air dan Udara. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
  10. Munir, E. 2006. Pemanfaatan Mikroba Dalam Bioremediasi : Suatu Teknologi Alternatif Untuk Pelestarian Lingkungan. http://www.usu.ac.id/id/files/pidato /ppgb/2006/ppgb_2006_erman_munir.pdfmages.soemarno.multiply.com/attachment/0/.../kentang%20%20residu%20fungisida%20dan%20jamur%20tanah.doc?n... . Diakses tanggal 14 Desember 2008.
  11. Respati, B. 2008 .Rangkuman Proses Biologis dalam Tanah dan Air Tanah. http://bambangrespati.wordpress.com/2008/12/04/rangkuman-proses-biologis-dalam-tanah-dan-air-tanah/. Diakses tanggal 14 Desember 2008.
  12. Sudarmo, S., 1991. Pestisida. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
  13. Sofia, D. 2001. Pengaruh Pestisida Dalam Lingkungan Pertanian. library.usu.ac.id/download/fp/fp-diana.pdf.
  14. LANGLOIS, B. E. J. A., COLLINS, 2 and K. G. SIDES. Some Factors Affecting Degradation of Organochlorine. jds.fass.org/cgi/reprint/53/12/1671.pdf

ISOLASI DAN KULTIVASI SERTA IDENTIFIKASI BAKTERI

Jumlah dan populasi bakteri di alam sekitar kita sangat banyak. Beratus-ratus atau mungkin ribuan species berbagai bakteri terdapat dimana-mana sehingga dia disebut bersifat cosmopolitan. Untuk dapat mengetahui dan mengidentifikasi bakteri perlu dibuat biakan murni bakteri yang kita identifikasi. Untuk itu perlu diambil bahan pemeriksaan, lalu bahan itu ditanam dengan maksud memperbanyak pertumbuhan bakteri yang dicari yang dinamakan pembiakan murni. Bakteri dibiakkan di laboratorium pada bahan nutrient yang disebut medium.

Mikroorganisme seperti bakteri sulit untuk dipelajari dalam ilmu taksonomi karena tidak mempunyai varietas dari ciri-ciri anatomi seperti halnya tumbuhan atau hewan.  Identifikasi bakteri didasarkan pada varietas dari karakteristik yang dimiliki oleh bakteri tersebut, tidak hanya dari morfologi tetapi juga karakteristik kultur mikroorganisme, fisiologi, dan patogenitas. Bakteri dapat diidentifikasi dengan mengetahui reaksi biokimia dari bakteri tersebut. Dengan menanamkan bakteri pada medium, maka akan diketahui sifat-sifat suatu koloni bakteri. Sifat-sifat suatu koloni tersebut ialah sifat-sifat yang ada sangkut pautnya dengan bentuk, susunan, permukaan, pengkilatan, dan sebagainya.

Bakteri, sebagai kelompok, hidup dan tumbuh di bawah kisaran keadaan yang luas. Beberapa species hidup pada deposit-deposit di parit-parit terdalam di samudera, yang lain hidup di tanah arktik, yang lain lagi di sumber air panas. Untuk menelaah bakteri di laboratorium kita harus dapat menumbuhkan mereka dalam biakan murni. Untuk melakukan hal ini, haruslah dimengerti jenis-jenis nutrient yang disyaratkan oleh bakteri dan juga macam lingkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya. Tidak ada satupun perangkat kondisi yang memuaskan bagi kultivasi semua bakteri di laboratorium. Bakteri amat beragam baik dalam persyaratan nutrisi maupun fisiknya. Beberapa bakteri mempunyai persyaratan nutrient yang sederhana sedangkan yang lain mempunnyai persyratan yang rumit. Beberapa species tumbuh pada suhu terendah 0 derajat celcius, sedangkan yang lain tumbuh pada suhu sampai 75 derajat celcius. Beberapa membutuhkan oksigen bebas, sedangkan yang lain dihambat oleh oksigen. Karena alasan ini maka kondisi harus disesuaikan sedemikian sehingga menguntungkan bakteri tertentu yang sedang ditelaah. Begitu tersedia kondisi yang baik untuk kultivasi, maka reproduksi dan pertumbuhan bakteri dapat diamati dan diukur, utnuk menentukan pengaruh berbagai kondisi baik terhadap reproduksi maupun pertumbuhan bakteri tersebut dan untuk menentukan perubahan-perubahan apa saja yang dihasilkan oleh bakteri di dalam lingkungan tumbuhnya.

Persyaratan Nutrisi
Semua bentuk kehidupan, dari mikroorganisme sampai kepada manusia, mempunyai persamaan dalam hal persyaratan nutrisi tertentu dalam bentuk zat-zat kimiawi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan fungsinya yang normal. Pengamatan-pengamatan baerikut ini melukiskan hal tersebut dan juga menampakkan keragaman yang amat besar dalam hal tipe nutrisi yang dijumpai di antara bakteri:
  • Semua organisme hidup membutuhkan sumber energi. Organisme hidup terbagi menjadi fototrof atau kemotrof dan kedua tipe nutrisi ini dijumpai di antara bakteri.
  • Semua organisme hidup membutuhkan karbon; semua membutuhkan sedikitnya sejumlah kecil karbondioksida, tetapi kebanyakan di antaranya juga membutuhkan beberapa senyawa karbon organik, seperti gula-gulaan dan karbohidrat lain.
  • Semua organisme hidup membutuhkan nitrogen. Bakteri sangat beragam dalam hal ini; beberapa tipe menggunakan nitrogen atmosferik, beberapa tumbuh pada senyawa nitrogen anorganik, dan yang lain membutuhkan nitrogen dalam bentuk senyawa nitrogen organic.
  • Semua organisme hidup membutuhkan belerang (sulfur) dan fosfor.
  • Semua organisme hidup membutuhkan beberapa unsur logam, natrium, kalium, kalsium, magnesium, mangan, besi, seng, tembaga dan kobalt untuk pertumbuhnannya yang normal. Walaupun dalam jumlah yang sedikit.
  • Semua organisme hidup membutuhkan vitamin (senyawa organic khusus yang penting untuk pertumbuhan) dan senyawa seperti vitamin yang berfungsi membentuk substansi yang mengaktivasi enzim – substansi yang menyebabkan perubahan kimiawi.
  • Semua organisme hidup membutuhkan air untuk fungsi-fungsi metabolic dan pertumbuhannya. Untuk bakteri, semua nutrient harus ada dalam bentuk larutan sebelum dapat memasuki bakteri tersebut.
                                (Pelczar dan Chan,1986)

Kondisi Fisik yang Dibutuhkan untuk Pertumbuhan
Bakteri tidak hanya amat bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi juga menunjukan respons yang berbeda-beda terhadap kondisi fisik di alam lingkungannya. Untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipe bakteri, dibutuhkan suatu kombinasi nutrient serta lingkungan fisik yang sesuai.
  1. Suhu
  2. Atmosfer gas
  3. pH
Mikroorganisme tidak mempunyai varietas dan ciri-ciri anatomi, tidak seperti halnya pada tumbuhan atau hewan yang mudah dipelajari dalam taksonomi. Masalah yang paling mendasar di dalam bakteriologi adalah penyembuhan, pembersihan, dan identifikasi dari kultur bakteri. Identifikasi bakteri didasarkan pada varietas dari karakteristik yang dimiliki oleh bakteri tersebut, tidak hanya dari morfologi tetapi juga karakteristik kultur mikroorganisme, fisiologi, dan patogenitas (Seeley & VanDemark, 1971).

Bakteri dapat diidentifikasi dengan mengetahui reaksi biokimia dari bakteri tersebut. Dengan menanamkan bakteri pada medium, maka akan diketahui sifat-sifat suatu koloni bakteri. Sifat-sifat suatu koloni tersebut ialah sifat-sifat yang ada sangkut pautnya dengan bentuk, susunan, permukaan, pengkilatan, dan sebagainya (Dwidjoseputro, D. 1981.) Identifikasi bakteri dapat diketahui dengan menanamkan sampel bakteri dalam media seperti media gula-gula dan penanaman dalam IMViC. Uji IMViC ini merupakan singkatan dari uji Indol, Metil Red, Voges Proskauer, dan Citrate.

Media Gula-Gula
Media gula-gula ini merupakan media yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi bakteri. Indikator yang digunakan adalah merah fenol, untuk mengetahui terjadinya pembentukan asam atau tidak sebagai hasil penguraian gula pada medium. Di dalam media gula-gula ini digunakan tabung Durham untuk mengetahui ada tidaknya pembentukan gas sebagai hasil penguraian gula dalam medium. Media gula-gula ini terdiri dari glukosa, laktosa, manosa, maltosa, dan sakarosa.

1.    Uji Indol
Bakteri yang tergolong dalam grup fekal dapat memecah asam amino triptofan dan menghasilkan suatu senyawa berbau busuk yang disebut indol. Bakteri yang telah ditumbuhkan dalam medium yang mengandung triptofan, kemudian diberi 3-5 tetes pereaksi Kovacs yang mengandung amil alkohol atau diberi kristal asam oksalat. Adanya indol akan menyebabkan amil alkohol berubah warnanya menjadi merah tua atau warna kristal asam oksalat menjadi merah muda. Uji yang menggunakan penunjuk amil alkohol disebut metode Kovacs, sedangkan yang menggunakan penunjuk asam oksalat disebut metode Gnezda.

2.    Uji Metil Red
Test ini adalah untuk mengetahui adanya pembentukan asam dengan pH di bawah 4. Metil Red adalah suatu indicator yang akan menunjukan warna merah bila pH ada di bawah 4. Hasil test positif ditandai dengan terbentuknya warna merah, sedangkan warna kuning menunjukan hasil negative. Pada uji ini sebelumnya ditambahkan reagen MR (0,4% dalam alcohol 96%) kedalamnya untuk dapat mengetahui reaksi warna.

3.    Uji Voges Proskauer  
Pada reaksi ini akan diselidiki apakah bakteri yang akan diuji dapat membentuk Acethyl Methyl Carbinol atau tidak. Untuk melihat hasil positif maka ke dalam medium yang telah ditanami ditambahkan KOH kemudian dipanaskan sebentar. Dalam hal ini akan terbentuk diacethil. Diacetyl ini dengan sisa-sisa guanidine akan membentuk warna merah kecoklatan yang berupa cincin dipermukaan tabung sebagai VP (+), bila tidak terjadi apa-apa ditulis VP (-).

4.    Uji Sitrat
Dengan manggunakan medium citrate menurut Simmon, merupakan medium padat yang terdiri dari mono ammonium fosfat, Na citrate, NaCl, air , agar-agar, dan indicator Bromtymol blue. Pada uji ini medium yang tadinya berwarna hijau kebiruan, bila bereaksi positif maka akan berubah menjadi berwarna biru terang. Bila rekasi negative, maka akan tetap berwarna hijau kebiruaan.

Selain dari reaksi biokimia, bakteri juga dapat diidentifikasi dengan mengamati pergerakannya atau motilitasnya. Motilitas bakteri ini dibagi dalam empat kelompok yaitu, aerob (organisme yang membutuhkan oksigen), anaerob (tumbuh tanpa oksigen molekular), anaerob fakultatif (tumbuh pada keadaan aerob dan anaerob), dan mikroaerofil tumbuh terbaik bila ada sedikit oksigen atmosfer). Motilitas bakteri ini dapat diamati dengan menumbuhkan bakteri pada semi solid agar (Pelczar dan Chan, 1986). 

DAFTAR PUSTAKA
Buchana, R.E.,dan N.E Gibbons (eds): Bergey’sManual of Detertminative  Bacteriology,8th. Wilias &  
      Wilkins: Baltimore
Dwidjoseputro, D. 1981. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta.
Pelczar, M. J., dan E. C. S. Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penterjemah
     Ratna Siri Hadioetomo., et al. Universitas Indonesia: Jakarta.
Seeley, H. W., dan P. J. VanDemark. 1971. Microbes in Action A Laboratory
     Manual Of Microbiology. W. H. Freeman and Company: San Fransisco




23.10.12

Aging and Process


Kulit memiliki fungsi melindungi bagian tubuh dari berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus (keratinisasi dan pelepasan sel-sel kulit ari yang sudah mati), respirasi dan pengaturan suhu tubuh, produksi sebum atau urap kulit dan keringat serta pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit dari bahaya sinar ultra violet matahari. Sebum adalah kandungan minyak yang melembabkan kulit dan melindungi terhadap polusi. Sebum atau urap kulit dibentuk oleh kelenjar palit. Kelenjar palit terletak pada bagian atas kulit jangat berdekatan dengan kandung rambut terdiri dari gelembung-gelembung kecil yang bermuara ke dalam kandung rambut (folikel). Folikel rambut mengeluarkan lemak yang meminyaki kulit dan menjaga kelunakan rambut.  Sebum berfungsi sebagai pertahanan terhadap musuh utama kecantikan wanita yaitu penuaan dini. Penuaan dini sering terjadi pada kulit yang berjenis kering, karena kadar sebum dalam kulit kering sangat sedikit. Biasanya penuaan dini ditandai dengan kondisi kulit terlihat lelah, kering, bersisik, kasar dan disertai munculnya keriput dan noda hitam atau vlek.




Kulit manusia terdiri atas epidermis dan dermis. Kulit berfungsi sebagai alat ekskresi karena adanya kelenjar keringat (kelenjar sudorifera) yang terletak di lapisan dermis. Epidermis tersusun atas lapisan tanduk (lapisan korneum) dan lapisan Malpighi. Lapisan korneum merupakan lapisan kulit mati, yang dapat mengelupas dan digantikan oleh sel-sel baru. Lapisan Malpighi terdiri atas lapisan spinosum dan lapisan germinativum. Lapisan spinosum berfungsi menahan gesekan dari luar. Lapisan germinativum mengandung sel-sel yang aktif membelah diri, mengantikan lapisan sel-sel pada lapisan korneum. Lapisan Malpighi mengandung pigmen melanin yang memberi warna pada kulit. Lapisan ini mengandung pembuluh darah, akar rambut, ujung syaraf, kelenjar keringat, dan kelenjar minyak. Kelenjar keringat menghasilkan keringat. Banyaknya keringat yang dikeluarkan dapat mencapai 2.000 ml setiap hai, tergantung pada kebutuhan tubuh dan pengaturan suhu. Keringat mengandung air, garam, dan urea. Fungsi lain sebagai alat ekskresi adalah sebgai organ penerima rangsangan, pelindung terhadap kerusakan fisik, penyinaran, dan bibit penyakit, serta untuk pengaturan suhu tubuh.  Pada suhu lingkunga tinggi (panas), kelenjar keringat menjadi aktif dan pembuluh kapiler di kulit melebar. Melebarnya pembuluh kapiler akan memudahkan proses pembuangan air dan sisa metabolisme. Aktifnya kelenjar keringat mengakibatkan keluarnya keringat ke permukaan kulit dengan cara penguapan. Penguapan mengakibatkan suhu di permukaan kulit turun sehingga kita tidak merasakan panas lagi. Sebaliknya, saat suhu lingkungan rendah, kelenjar keringat tidak aktid dan pembuluh kapiler di kulit menyempit. Pada keadaan ini darah tidak membuang sisa metabolisme dan air, akibatnya penguapan sangat berkurang, sehingga suhu tubuh tetap dan tubuh tidak mengalami kendinginan. Keluarnya keringat dikontrol oleh hipotamulus.
 
Beberapa fakta ilmiah mengenai kulit manusia, diantaranya sebagai berikut :
  1. Pada usia muda, kulit baru akan muncul ke lapisan epidermis setiap 28 – 30 hari. Dengan bertambahnya usia, proses regenerasi berkurang secara cepat. Dan setelah usia di atas 50 tahun prosesnya menjadi sekitar 37 hari.
  2. Lapisan dermis kulit adalah lapisan kulit yang bertanggung jawab terhadap sifat elastisitas, dan kehalusan kulit. Berfungsi mensuplai makanan untuk lapisan epidermis, dan sebagai fondasi bagi kolagen serta serat elastin.
  3. Vitamin C merangsang dan meningkatkan produksi kolagen kulit dengan cara meningkatkan kemampuan perkembangbiakan sel fibroblast tua dermis.
Penuaan adalah proses yang dinamis dan kompleks yang dihasilkan oleh perubahan-perubahan sel, fisiologis, dan psikologis. Sementara ada beberapa orang dewasa yang mengalami penurunan fungsi organ dan aktivitas metabolisme, ada juga sejumlah yang lain yang tidak mengalami penurunan keadaan fungsional selama penuaan. Kekhasan ini menyebabkan timbulnya pembedaan antara penuaan yang "berhasil" dan yang "biasa" yang mencerminkan patologi yang lebih sering dikaitkan dengan kebiasaan hidup yang jelek, antara lain pola menu makanan yang tidak sehat, merokok, gemar minum, jarang olahraga, dan faktor-faktor yang berhubungan dengan stres lainnya, daripada dengan penuaan itu sendiri. Sedangkan penuaan pada kulit merupakan proses dimana produksi kolagen menurun seiring dengan bertambahnya usia, sehingga berdampak pada meningkatnya proses “kulit kering” serta pengurangan sifat elastisitasnya. Lapisan dermis inilah yang bertanggung jawab akan sifat elastisitas dan kehalusan kulit (skin smoothness) yang merupakan kunci utama untuk disebut “awet muda” serta memiliki kulit indah (beautiful skin).

Penuaan merupakan proses yang kompleks, yang mempengaruhi setiap molekul, sel, dan organ tubuh. Kulit merupakan organ tubuh yang paling mudah merefleksikan akibat dari proses penuaan tersebut. Seiring bertambahnya usia dan semakin banyak tubuh kita terpapar oleh lingkungan tempat kita hidup, maka semakin banyak proses biokimiawi yang menyebabkan perubahan pada kulit kita, selain tentu saja dipengaruhi oleh faktor genetik.
 

Penuaan yang terjadi di lapisan integumen yaitu kulit pada dasarnya terbagi atas 2 proses besar, yaitu penuaan kronologi (chronological aging) dan 'photo aging'. Penuaan kronologi ditunjukkan dari adanya perubahan struktur, dan fungsi serta metabolik kulit seiring berlanjutnya usia. Proses ini termasuk, kulit menjadi kering dan tipis; munculnya kerutan halus, adanya pigmentasi kulit (age spot). edangkan proses 'photo aging' adalah proses yang menyangkut berkurangnya kolagen serta serat elastin kulit akibat dari paparan sinar UV matahari. Paparan sinar sinar UV yang berlebihan, dapat menyebabkan kerusakan kulit akibat munculnya enzim proteolisis dari radikal bebas yang terbentuk. Enzim ini selanjutnya memecahkan kolagen serta jaringan penghubung di bawah kulit dermis.
 
Sehingga dari pengetahuan kita mengenai fakta dan proses penuaan kulit yang merupakan penyebab penuaan dini, kita perlu melakukan tindakan yang tepat untuk menangani penuaan dini. Salah satu tindakan untuk menangani penuaan dini adalah memakai produk antiaging yang tepat.

Faktor - faktor yang memengaruhi penuaan, antara lain:






               
 Secara alami tubuh kita akan memburuk seiring bertambahnya usia tubuh. Dalam tahun-tahun berikutnya, banyak fungsi-fungsi penting mulai beroperasi pada tingkat yang tidak optimal. Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi proses penuaan tubuh. Pertama, saat kita beranjak tua, jumlah kesalahan harian yang ditimbulkan oleh sel reproduksi meningkat. Tubuh menjadi membentuk sel baru namun sel bentukan baru itu tidak berfungsi bagi tubuh. Dan dengan semakin lanjut usia, prosentase sel tubuh yg tidak berguna ini menjadi lebih besar. Dalam kondisi tertentu(lebih buruk), kadang-kadang sel-sel tak berguna/tak berfungsi ini malah mengganggu proses seluler normal. Bagian kedua dari proses penuaan berkaitan dengan kerusakan sel yang menyebabkan pemendekan DNA.

Proses yang disebut apoptosis akhirnya memicu sebuah atau kematian sel terprogram. Dengan berjalannya waktu, peningkatan kerusakan DNA yang sehat menyebabkan kematian sel dipercepat, dan tubuh tua kita tidak bisa menghasilkan sel-sel cukup cepat untuk mengganti kerugian. Proses ini paling terlihat dan jelas di kulit kita, kulit tua kita menjadi lebih tipis. Bagian ketiga dari proses penuaanadalah melibatkan penurunan alami fungsi/kualitas enzim oksidatif dalam tubuh kita seperti superoksida dismutase, katalase, dan glutation perxoidase, hal ini membuat pertahanan antioksidan kita kurang efisien dengan bertambanya usia.

Tentunya dengan mengatasi penyebab, yaitu faktor-faktor yang telah disebutkan di atas seperti menghindari paparan sinar matahari yang kronis ( bahkan harus dikurangi sejak masa anak-anak), tidak merokok, menghindari mengernyitkan wajah secara berlebihan dan bila harus sering terkena AC maka pelembab harus secara rutin dipakai.
 
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2007.Penuaan. http://www.kesrepro.info/?q=node/8
Anonim.2009. Faktor Penyebab dan Tips Mencegah Penuaan Dini.http://www.smallcrab.com/kulit/636-penuaan-dini.
Anonim.2010. Kulit. http://id.wikipedia.org/wiki/Kulit.
Anonim.2010.Proses Penuaan. http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/09/proses-penuaan/
Anonim.2010.Proses Penuaan Pada Kulit dan Tubuh Kita.http://www.kulitkucantik.com/tips/artikel.php?id=29&judul=proses_penuaan_pada_kulit_dan_tubuh_kita
Anonim.2010.Mengenal Kulit dan Penuaan Dini. http://www.medicastore.com/ser-c/penuaan_dini.htm
Pamela, R. 2008. Stress Oksidatif Memicu Penuaan Dini. http://www.ruripamela.com/2008/11/penuaan-merupakan-proses-yang-kompleks.html